Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar catatan organisasi, tetapi rangkaian ikhtiar lahir dan batin para ulama dalam menjaga agama, tradisi, dan kemaslahatan umat. Di balik lahirnya jam’iyyah ini, ada kisah penuh adab, tawadhu’, dan isyarat spiritual yang menguatkan langkah para kiai.
Salah satu fragmen penting bermula dari perjalanan seorang santri, KH As’ad Syamsul Arifin, yang membawa amanah dari gurunya, KH Cholil Bangkalan. Amanah itu berupa tasbih yang harus disampaikan kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Sepanjang perjalanan, tasbih tersebut tidak disentuh oleh tangan KH As’ad. Bukan karena enggan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap amanah guru yang begitu dijaga kesuciannya.
Setibanya di Tebuireng, KH As’ad mempersilakan langsung KH Hasyim Asy’ari mengambil tasbih tersebut dari lehernya. Sikap ini mencerminkan adab tinggi seorang santri kepada guru dan amanah yang diembannya.
Saat ditanya apakah ada pesan lain, KH As’ad hanya melantunkan dua Asmaul Husna, “Ya Jabbar, Ya Qahhar,” yang diulang hingga tiga kali. Lantunan ini bukan sekadar dzikir, melainkan isyarat yang sarat makna.
Mendengar hal tersebut, KH Hasyim Asy’ari kemudian menyampaikan bahwa Allah SWT telah memberikan izin untuk mendirikan sebuah jam’iyyah. Isyarat ini menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.
Kisah ini bukan satu-satunya. Sebelumnya, KH As’ad juga pernah diutus membawa tongkat dari KH Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari, disertai ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17–23 yang berkisah tentang Nabi Musa.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa lahirnya NU tidak hanya bertumpu pada pertimbangan rasional. Ada dimensi spiritual yang kuat, melalui istikharah, tawassul, dan isyarat para ulama.
Di sisi lain, secara organisatoris, gagasan pendirian NU telah dirintis oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sejak awal 1920-an. Ia mengusulkan pembentukan jam’iyyah kepada KH Hasyim Asy’ari, namun tidak langsung disetujui.
KH Hasyim memilih berhati-hati. Ia melakukan shalat istikharah untuk memastikan bahwa langkah besar ini benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat.
Sikap ini wajar, mengingat posisi beliau saat itu bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga rujukan umat dan tokoh penting dalam pergerakan bangsa. Setiap keputusan tentu harus dipertimbangkan dengan matang.
Dalam prosesnya, petunjuk justru datang melalui KH Cholil Bangkalan. KH As’ad kemudian menjadi penghubung yang menyampaikan amanah tersebut kepada KH Hasyim Asy’ari.
Dari sini terlihat bahwa sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama adalah perpaduan antara ikhtiar lahir dan batin. Bukan semata hasil diskusi, tetapi juga hasil munajat kepada Allah SWT.
Namun demikian, NU juga lahir dari dinamika sosial dan keagamaan yang nyata. Sebelumnya, para kiai telah mendirikan beberapa organisasi seperti Nahdlatul Wathan (1916) dan Nahdlatut Tujjar (1918).
KH Wahab Chasbullah juga mendirikan Tashwirul Afkar sebagai ruang diskusi pemikiran. Semua ini menjadi fondasi awal sebelum lahirnya NU dalam bentuk yang lebih luas.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah situasi global umat Islam saat itu. Munculnya kebijakan di Hijaz yang cenderung menolak praktik bermazhab menjadi kegelisahan tersendiri bagi ulama pesantren.
Kebijakan tersebut bahkan berencana menghapus tradisi ziarah dan membatasi keberagaman praktik keagamaan. Hal ini dipandang sebagai ancaman terhadap warisan Islam yang telah berkembang berabad-abad.
Merespons hal itu, KH Wahab Chasbullah menggagas pembentukan Komite Hijaz. Tujuannya adalah mengirim delegasi untuk menyampaikan aspirasi umat Islam Indonesia di forum internasional di Makkah.
Setelah melalui berbagai dinamika, para ulama akhirnya sepakat membentuk wadah resmi. Maka pada 31 Januari 1926, berdirilah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Nama “Nahdlatul Ulama” sendiri diusulkan oleh KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Nama ini mencerminkan semangat kebangkitan para ulama dalam menjaga agama dan peradaban.
Sejak saat itu, NU terus tumbuh menjadi organisasi besar yang berperan dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan. NU hadir dengan wajah Islam yang ramah, moderat, dan menghargai tradisi.
Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama mengajarkan bahwa perjuangan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga keikhlasan dan kedekatan kepada Allah. Para kiai memberi teladan bahwa keputusan besar harus dilandasi adab dan pertimbangan yang matang.
Hari ini, semangat itu tetap relevan. NU bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga amanah untuk masa depan umat dan bangsa.
Mari kita rawat nilai-nilai yang diwariskan para muassis. Dengan menjaga ukhuwah, memperkuat khidmah, dan terus belajar, kita ikut melanjutkan jejak perjuangan Nahdlatul Ulama dalam menghadirkan Islam yang menyejukkan dan membawa rahmat bagi semesta.